Malam ini tak seperti biasa. Sinar temaram kuning redup
nampak dipelupuk mata. Melihat hijau rerumputan diinjak-injak oleh kaki
beberapa anak kecil yang asik bermain bola. Gemercik suara air mancur saling
bersahutan terdengar asri. Angin malam berhembus ringan. Tugu muda terlihat
sangat elok malam itu.
Terlebih hati kami (baca: Relawan Geodet Berbagi), terasa
lebih senang dan penuh harap. Itu pertama kalinya kita menyambangi anak-anak
jalanan kota Semarang. Disana kita mau membagi hati dan rasa bahagia kami.
Dibantu oleh kakak-kakak dari komunitas Generasi Emas, Berbagi Nasi Semarang
dan kawan jurusan Arsitek Undip.
Pukul 19.30 kita mulai kegiatan kami yang bertajuk Geodet
Peduli Anak Jalanan (Geo-Panjal). 60 Relawan lebih bercengkerama dengan 20
lebih anak jalanan. Bernyanyi bersama, tertawa dan saling berbagi cerita. Mereka
kita beri keterampilan menggambar, membuat perhiasan gelang manik-manik dan
merangkai papper craft.
Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sudah saatnya mereka
pulang, karena tak semua anak jalanan adalah gelandangan. Mereka ada yang masih
memiliki rumah di sekitar daerah gunung brintik, tak jauh dari tugu muda.
Pertemuan itu kami tutup dengan menyanyikan lagu laskar pelangi yang
dipopulerkan oleh Nidji.
“Menarilah dan terus tertawa. Walau dunia tak seindah surga.
Bersyukurlah pada yang kuasa. Cinta kita didunia. Selamanya.”
No comments:
Post a Comment