“Difabel diciptakan Tuhan bukan-lah sebagai produk gagal, namun, ia diciptakan sebagai inspirasi, sekaligus pengingat akan rasa syukur, untuk kita yang diberikan kesempurnaan olehNya”
***
Pukul 9.30 kami sampai dirumah mereka. Senyum hangat mudah kami terima. Beberapa nama yang masih kami ingat, solli, temu dan reihan menyambut kedatangan kami dengan gembira. Sedang tiara, dan teman-teman lainnya malu-malu melihat kedatangan kami. Tak lama setelah duduk sejenak, mereka sudah meminta untuk diajarkan bagaimana menggambar. Iringan musik riang nan bermakna menambah suasana bahagia saat itu.
Beberapa kalimat syair kami lantunkan, seperti lagu ost laskar pelangi, “menarilah dan terus tertawa. Walau dunia tak seindah surga. Bersyukur-lah pada yang kuasa. Cinta kita di dunia. Selamanya.” Ada lagi syair lagu D’massive, jangan menyerah, “Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik. Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasanya. Bagi hambanya yang sabar. Dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah”
Kebahagiaan yang mereka rasakan, mereka luapkan dengan cara mereka masing-masing. Ada yang berjoget, berteriak ataupun sebatas tersenyum dalam pembaringan. Karena tak sedikit dari mereka yang lumpuh layu.
Tuhan, terimakasih atas apa yang engkau berikan kepada kami. Kami terus mengelak akan apa yang telah Engkau beri. Sedang saudara kami itu tetap tersenyum menghadapi realita. Yang bagi kami, bak terperosok jauh kedalam, terjerembab tak berujung. Kami memang lalai, dan merelah yang mengingatkan kami kembali.
Terimakasih saudaraku, sekarang atau besok. Besok-nya lagi atau kapan. Kami yakin, engkau pasti akan mendapat kesempurnaan, sebagai balasan atas ketabahan dan rasa syukur yang tak henti kalian ucapkan. Sampai jumpa dihari bahagia. Bersabarlah, sesungguhnya Tuhan bersama mereka yang penyabar. Salam berbagi.
No comments:
Post a Comment